Apa Kata Tante Tentang Film “Kenapa Harus Bule?”
- Jun 16, 2018
- 3 min read
Hello kesayangan tante!!!!
Di suatu weekend yang indah, kita berdua sama2 menonton film “Kenapa Harus Bule?” garapan Andri Cung dan rumah produksi Kalyana Shira Film. Kenapa harus film itu? Well, kalo tante Rany siy paling males nonton film2 berat serius, action, dan takut nonton film horror. Jadi film yang jelas - jelas genrenya komedi ini paling enteng buat ditonton.
Besar harapan kami untuk menemukan dialog - dialog cerdas tapi penuh dengan sarkasme dan humor melalui film ini. Jujur saja, terlepas ini Indonesia atau bukan, interracial marriage sudah sangat umum terjadi karena orang - orang berpindah tempat setiap saat dan sebagian besar karena pekerjaan. Jadi tidak heran kalau banyak yang menemukan jodoh di negara tempat dimana mereka bekerja.
Diawali dengan harapan positif yang tinggi karena film ini mengangkat fenomena yang saat ini sedang terjadi terutama dari sisi perempuan, setengah perjalanan kami mulai marah dan menjadi murka di saat film berakhir.
Kami marah karena tokoh utama di film ini, Pipin, sesungguhnya TIDAK mewakili realita kehidupan wanita Indonesia secara umum. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada sesama wanita, setiap kita memiliki alasan - alasan yang berbeda saat mencari pasangan hidup, baik itu pasangan hidup orang Indonesia atau bule. Kami marah karena film ini pada akhirnya seakan - akan mengolok-olok wanita Indonesia atas keputusasaannya mencari pasangan hidup. FYI, most of us are doing just fine without someone beside us and there’s nothing wrong with that.
Kami sempat optimis di beberapa dialog antara Pipin dan sahabatnya mengenai perbedaan lelaki Indonesia dan bule. Pipin sangat mengagumi nilai - nilai orang bule tentang kesetaraan gender. Kami adalah suporter utama Girl Power dan budaya barat memang mendidik anak - anak mereka sedari kecil tentang kesetaraan gender. Tapi harapan kami hilang lagi disaat Pipin semudah itu jatuh ke tangan seorang bule tanpa berpikir apakah nilai - nilai yang dia bahas bersama sahabatnya itu sesuai dengan karakter si bule atau tidak. Dia nurut aja disuruh ngapain sama pacar bulenya dan argumen - argumennya saat berbeda pendapat dengan si bule pun tidak cerdas.
Selain itu, please deh, kenapa film - film Indonesia sering sekali menggambarkan kondisi jauh dari realita? Di Bali, jarang sekali ada orang yang pergi kemana - mana pake sepatu hak tinggi. Bukannya apa2, puanasss!!! Dan Bali adalah tempat yang tepat untuk memamerkan kuku - kuku kaki yang udah di pedicure dan diwarnain kece ituh. Kalau pake sepatu tertutup mah yah sama juga bo’ong deh. Salah satu contoh, dibagian akhir pas Pipin lari - lari mengejar cintanya ke Buyung. Kita ngerti siy mau sedikit drama dengan Pipin lari - lari di sawah pake high heels unik kece (btw, itu buatan Ni Luh Djelantik yah? Kalo iya, pantasan keren abis). But so sorry to tell you the truth, enggak ada satupun orang yang jalan ke sawah pake high heels. Read our lips: ENGGAK ADA. Ente boleh cek toko sebelah kalo gak percaya.
Anyway, setelah amarah itu turun dan kami menenangkan diri dengan segelas gin & tonic untuk tante Rany dan teh panas (pastinya) untuk tante Astrid, kami memiliki beberapa kesimpulan yang kami ingin bagikan kepada kalian kesayangan tante dari film Kenapa Harus Bule?.

1. Budaya barat mendidik anak - anak mereka untuk menjadi pribadi - pribadi yang menghormati dan menghargai setiap gender. Kesetaraan gender adalah hal yang sangat penting dimana setiap orang berhak untuk dihargai terlepas apa gender mereka.
2. Tapi tentu saja manusia adalah manusia, mau produk lokal atau bukan, pada dasarnya sama saja. Jadi, tetap saja setiap orang sifatnya berbeda. Contohnya si Gianfranco model Italy yang justru memperlakukan Pipin seperti pembantu.

3. Kalau dari kencan pertama itu lelaki sudah alasan dompet ketinggalan, tinggalkan saja mereka! Buat kami gak masalah sama sekali kalau kami harus cheap in atau bayar sendiri - sendiri. Tapi yah gak usah pake alasan dompet ketinggalan donks! Ngajak kencan kok gak mau keluar duit. “Jadi perempuan itu harus pinter biar gak gampang dibohongi lelaki.” Ingat - ingat pesan tante!
4. Film ini TIDAK mewakili perempuan Indonesia pada umumnya walaupun mungkin ada segelintir populasi yang menginginkan pasangan bule untuk menaikkan strata sosial, which is okay, setiap orang punya alasan mereka masing - masing untuk mendapatkan kebahagiaan.

Moral of the story is mari kita lepaskan kacamata stereotype kita, bahkan saat hendak membuat film yah, dan melihat manusia, bule atau bukan, apa adanya dan seimbang termasuk melihat mereka yang memilih untuk bersama dengan orang yang berbeda kebangsaan.
Apakah kamu memiliki pasangan berbeda kebangsaan? Atau berinteraksi dengan orang - orang dari beragam kebangsaan? Share with us! We want to hear from you!



Comments