Why I said YES to marriage (Edisi Spesial Curhat Tante Rany)
- Feb 7, 2021
- 4 min read
Seperti perempuan Indonesia pada umumnya, aku dibesarkan dengan pengertian bahwa ketika dewasa, aku akan menikah dan membina keluarga bersama suami dan anak-anak. Dan cara berpikir seperti itulah yang aku bawa sampai sekitar aku menginjak umur 35 tahun.

Kenapa umur 35 tahun? Karena ketika aku menginjak umur 35 tahun, aku sudah menjalani kurang lebih 3 hubungan yang serius dengan harapan akan berakhir ke pernikahan. Tapi semuanya gagal di tengah jalan.
Jadi di umur 35 tahun dan memiliki prinsip bahwa “it takes two to tango” dalam membina hubungan percintaan, aku mengambil waktu untuk engevaluasi diri sendiri. Apa aja siy kesalahanku di hubungan masa lalu? Sekaligus mencari tahu tentang apa yang aku mau dan apa arti pernikahan buatku.
Dan inilah beberapa hasil pemikiranku:
Berdasarkan agama (apapun itu agamanya), pernikahan adalah satu hal yang sakral dan bertujuan untuk melanjutkan keturunan. Sakral berarti suci dan layak masuk ke surga. Melanjutkan keturunan berarti memastikan kalau ras manusia akan tetap ada di bumi ini.
Tapi kenyataannya, banyak pernikahan yang gagal (terlepas dari penyebabnya apa yah) di tengah jalan. Dan kalau pasangan menikah tsb sudah memiliki anak, masih ada lagi urusan pengasuhan anak.
Lalu ada pasangan menikah yang tidak dikaruniai anak. Tujuan pernikahan untuk melanjutkan keturunan menjadi kurang kuat
Atas dasar pemikiran tersebut, aku mulai merubah cara pandangku tentang hubungan romantis antar manusia.
Pernikahan bukanlah akhir dari tujuan hidup. Pernikahan adalah salah satu "milestone", atau salah satu jalan dari berbagai jalan kehidupan. Itu sebabnya, aku selalu berpikir kalau pernikahan adalah jalan kehidupan yang harus kutempuh, Tuhan pasti arahkan kesitu. Kalau memang pernikahan bukanlah jalan yang harus aku tempuh, ya gak apa apa.

Tapi, bukan berarti aku tidak boleh punya pasangan donk! Hidup sendirian di bumi ini sangatlah berat, teman-teman! Alangkah baiknya kalau aku menjalaninya bersama dengan seseorang yang memegang nilai-nilai yang sama denganku.
Dan cara pandang yang baru inilah yang aku jalankan sejak umur 35 tahun sampai sekarang. Hasilnya? Yah, aku tetep aja melajang, gak nemu yang serius, hahaha! Tapi, hidupku jadi lebih santai! Gak ngoyo dan gampang down karena gagal membina hubungan, atau melihat sepupu atau teman menikah.
Ndilalahnya, waktu umurku 38 tahun dan memutuskan untuk pindah ke Bali secara permanen, aku bertemu dengan si Om. Si Om adalah seorang warga negara Australia berumur 46 tahun pada saat berkenalan. Karena kecocokan, kami pun berkomitmen untuk membina hubungan pacaran setelah saling kenal selama kurang lebih 1 tahun.
Walaupun demikian, aku tetap tidak berpikir bahwa hubungan tersebut akan berujung pada pernikahan. Yang aku lakukan adalah menjadi diri sendiri dan belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang aku cinta. Bukannya apa-apa, hidup bersama orang lain itu sulit loh! Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah pacar kamu bisa menerima kalau kamu sering tidak mandi setelah pulang dari dugem? Memang kamu gak apa-apa kalo pacar kamu abis dari pantai dengan kaki penuh pasir langsung tiduran di kasur? Kalau kalian berantem, emangnya sanggup tidur di ranjang yang sama dengan orang yang kita lagi gedeg banget? Hal-hal yang sepertinya kecil bisa menjadi masalah besar kalau kita tidak menjadi diri sendiri sejak awal dan bersedia untuk berkompromi.
Nah, seperti kata orang-orang, ternyata Tuhan berkehendak lain! Si Om melamarku setelah kurang lebih 3 tahun menjalin hubungan. Jujur saja, aku kaget! Karena aku memang gak pernah mikirin pernikahan. Bahkan aku gak yakin apakah akan mampu atau tidak menjalani kehidupan pernikahan.
But I said YES! And you want to know why?

Kembali lagi ke prinsipku bahwa pernikahan bukanlah akhir dari tujuan hidup. Mungkin lamaran ini menandakan bahwa kehidupan pernikahan adalah bagian dari jalan hidup yang memang harus kujalani.
Kami tidak memiliki beban masa lalu. Nah, ini penting! Jujur deh, banyak dari kita yang masih punya beberapa PR di masa lalu yang belum selesai. Aku pun pernah mengalaminya. Itulah sebabnya kenapa aku berani mengatakan ya. Karena sudah tidak ada keraguan tentang apakah dia orang yang tepat atau tidak. Beban masa lalunya sudah hilang. Coba kalian tanya ke diri sendiri, masih ada beban masa lalu gak di hati kalian?
Sebagai orang yang percaya dengan takdir atau destiny, aku mengatakan ya karena perjalanan hubungan kami sangat lancar. Bukan berarti hubungannya lancar tanpa berantem atau kesulitan yah kesayangan, kalau itu mah sudah pasti BUANYAK! Tapi semuanya seperti dipermudah ketika kami memulai hubungan sampai akhirnya bertunangan.
Pernikahan adalah sebuah institusi yang akan menjamin hak dan kewajiban kami sebagai pasangan. Jadi, kalau kami saling mencintai dan ingin saling menjaga satu sama lain, institusi pernikahan akan memperkuat hubungan tersebut secara hukum. Misalnya, kalau kami ingin memiliki anak. Dengan berada dalam institusi pernikahan, anak tersebut dilindungi hak dan kewajibannya secara hukum dan kami sebagai orang tua juga memiliki tanggung jawab secara hukum kepada anak. Selain itu, ketika salah satu pasangan harus meninggalkan dunia ini misalnya, maka pengaturan harta dan kewajiban terlindungi juga sesuai hukum dan ketentuan yang berlaku.
I know, it sounds boring! Percintaan kenapa harus mikirnya sampe ke hukum segala! Jadi kayak mengurangi kadar romantisnya, hahaha! Tapi memang itu bagian yang harus diperhatikan ketika kita berencana akan menikah kesayanganku! Dan aku yakin ketika aku berkata ya, aku ingin memastikan bahwa pasanganku dan aku akan terlindungi secara hukum.
Demikianlah proses hidupku sampai akhirnya mengatakan YA pada pernikahan. Kalian mungkin ada pengalaman yang mirip atau justru sedang dalam persimpangan? Yuks dishare di kolom komentar!

Tante Atid sebagai editor post kali ini sangat terharu membaca ini. . .

Comments